Rabu, 24 Agustus 2011

LaporaN Individu KKN II (Rusli Hamzah)

















LAPORAN INDIVIDUAL
KULIAH KERJA NYATA (KKN)
ANGKATAN II
“BUDIDAYA JAMUR TIRAM  (MEMAKSIMALKAN POTENSI LIMBAH PERTANIAN YANG SELAMA INI BELUM DIMANFAATKAN SECARA OPTIMAL) SEBAGAI PELUANG USAHA BARU YANG CUKUP MENJANJIKAN DI DESA BANDORASAKULON KECAMATAN CILIMUS KABUPATEN KUNINGAN”





Disusun  Oleh:
Nama                      : RUSLI HAMZAH
NIM                        : 07460826
Kelompok               : 06
Desa/Kecamatan     : Bandorasakulon / Cilimus
DPL                        : Dra.Hj.Suniti, M.Pd





LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (LPM)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2011

“BUDIDAYA JAMUR TIRAM  (MEMAKSIMALKAN POTENSI LIMBAH PERTANIAN YANG SELAMA INI BELUM DIMANFAATKAN SECARA OPTIMAL) SEBAGAI PELUANG USAHA BARU YANG CUKUP MENJANJIKAN DI DESA BANDORASAKULON KECAMATAN CILIMUS KABUPATEN KUNINGAN”

Dewasa ini budidaya jamur yang dapat dikonsumsi telah banyak dilakukan orang yaitu dengan menggunakan limbah pertanian sebagai media tumbuhnya. Salah satunya adalah di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, dimana ada sebagian warga desanya yang telah memanfaatkan berbagai macam limbah pertanian untuk diolah menjadi media tanam untuk usaha pembudidayaan jamur.
Mengenal sekilas tentang Desa Bandorasakulon adalah mengenal sebuah desa yang berada pada 600-700 meter di atas permukaan laut yang merupakan daerah strategis diantara (di tengah-tengah) segitiga pariwisata terkenal di Kabupaten Kuningan ( Obyek wisata Linggarjati, Sidomba, dan Sangkanhurip) , dan juga tepat di bawah kaki gunung Ciremai. Luas wilayah dari Desa Bandorasakulon adalah 320.272 ha/m2. Adapun untuk batas wilayah dari Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan  adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Desa Linggasana, Sebelah Barat : Gunung Ciremai, Sebelah Timur : Desa Bandorasa Wetan, dan Sebelah Selatan : Desa Manis Lor
Desa Bandorasakulon dibagi kedalam 5 (lima) dusun. Dusun Manis, Pahing, Puhun, Wage, dan Kliwon. Adapun untuk jumlah penduduk Desa Bandorasakulon adalah berjumlah 4.411  jiwa terdiri atas 30 RT, 15 RW dan 5 Kepala Dusun.  Berdasarkan bentang alamnya wilayah Desa Bandorasakulon merupakan dataran tinggi. Suhu rata-rata harian di Desa Bandorasakulon berkisar 270 C, untuk curah hujan mencapai 3554 Mm.
Warga Desa Bandorasakulon mempunyai beberapa profesi yang ditekuninya sebagai mata pencaharian pokok, diantaranya : Petani, Buruh tani, Karyawan perusahaan swasta, Pedagang Keliling, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Peternak, Montir, Bidan/Perawat Swasta, TNI, POLRI, Pengusaha besar, kecil dan menengah, Pekerja TKI ke luar negeri, dan Seniman/artis. Dari segi perekonomian warga desa Bandorasakulon hidup sederhana. Rata-rata mayoritas perekonomian warga desa Bandorasakulon yakni menengah kebawah dan hanya sebagian kecil yang berperekonomian menengah keatas.
Bapak Wawan Setiawan melalui Kelompok Usaha Sabanda Sariksa adalah merupakan salah seorang dari beberapa warga desa Bandorasakulon yang juga merupakan Kepala Dusun Pahing, memiliki sebuah inisiatif untuk memanfaatkan limbah pertanian menjadi salah satu peluang usaha, yaitu untuk media tanam dari budidaya jamur Tiram. Bermodal pengalaman pelatihan dari Perhutani dan BKKBM yang pernah diikuti oleh beliau.
Perlu diketahui jamur atau biasa disebut juga dengan nama cendawan, supa, suung tidak memiliki klorofil, sehingga kebutuhan karbohidratnya selalu harus dipenuhi dari luar.karena itu jamur harus hidup secara sapropotik atau secara parasitik. Sapropotik mengandung pengertian bahwa jamur hidup pada sisa makhluk hidup lain yang sudah mati,misalnya pada tumpukkan sampah, tumpukkan kotoran hewan, serbuk gergaji kayu, ataupun pada batang kayu yang sudah lapuk. Sedangkan parasitik adalah hidup pada jasad makhluk hidup lainnya,misalnya tumbuh-tumbuhan,hewan,atau manusia yang masih hidup. Kehadiran jamur tersebut biasanya menjadi penyakit atau gangguan.
Bentuk tubuh jamur bervariasi,mulai dari yang sangat sederhana karena hanya terdiri atas satusel (pada ragi kue), bentuk serat atau Miselium (Jamur tempe atau oncom), bentuk tubuh buah (jamur merang,jamur kancing,jamur shiitake,dll), bentuk bilah, bunga karang, payung,sampai kulit kerang (tiram) sehingga masyarakat menyebutnya jamur tiram. Kegunaan atau manfaat dari jamur tiram itu sendiri adalah untuk dibudidayakan dan dikonsumsi masyarakat.
Adapun beberapa keuntungan budidaya jamur, yaitu :
1.      Melalui pemanafaatan bahan-bahan limbah di sekitar kita, akan menjadikan lingkungan kita menjadi bersih,indah, dan sehat.
2.      Budidaya jamur dapat dikembangkan tanpa menggunakan lahan yang luas.
3.      Produk jamur dapat dimanfaatkan untukmenambah gizi tau menu serta dapat menambah pendapatan keluarga.
4.      Kompos bekas media tanam dapat langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan, dan untuk memelihara cacing.
Media tanam yang sudah umum digunakan untuk proses pembudidayaan jamur tiram ini adalah serbuk gergaji kayu, tetapi bukan sembarangan serbuk gergaji kayu yang digunakan, tentunya kayu yang tidak beracun,kemudian dicampur dengan bahan-bahan yang lain dengan perbandingan tertentu. Untuk perbandingannya adalah sebagai berikut : (a.) serbuk gergaji 100 kg, (b.) bekatul atau dedak halus 10-15 kg, (c.) Kalsium carbonat/kapur (CaCO3) 0,5 Kg, (d.) Gips (CaSO4) 0,5 kg. (e.) Pupuk TSP 0,5 Kg, (f.) bibit 25 kantung, (g.) air secukupnya).
Di samping itu perlu disiapkan bahan-bahan lainnya yaitu : kantung plastik tahan panas (ukuran 03 atau 04, 15 x 25 cm atau 17 x 30 cm), karet pengikat, potongan kertas koran, potongan pipa paralon (diameter 1 “ dan lebar 1 cm).

 
Adapun proses produksi dari budidaya jamur tiram ini skema/Alurnya adalah sebagai berikut :


PERSIAPAN -> PENGAYAKAN -> PENCAMPURAN -> PENGOMPOSAN -> PEMBUNGKUSAN -> STERILISASI/PENGUKUSAN -> INOKULASI (Pemberian Bibit) -> INKUSASI -> PEMELIHARAAN -> PANEN-> PENYORTIRAN -> PENJUALAN
 
 




Proses pengomposan dari budidaya jamur tiram adalah sebelum ditanam bibit, bahan –bahan media tanam tersebut di komposkan terlebih dahulu selama 15 hari dengan tahapan sebagai berikut :
1)      Serbuk gergaji yang telah benar-benar kering direndam dengan air bersih di dalam suatu wadah selam 1 malam.
2)      Meniriskan (sampai dikepal tidak pecah) selanjutnya menambahkan kapur beserta bekatul dan diaduk ampai rata. Kemudian bniarkan dalam tumpukan selama 5 hari.
3)      Tumpukan diaduk kembali dengan ditambahkan pupuk TSP dan biarkan selama 5 hari.
4)      Bahan diaduk kembali dan tambahkan gips. Lalu biarkan lagi tumpukan itu sampai 5 hari, maka proses pengomposan telah selesai.
Untuk proses pembungkusan yaitu bahan-bahan media tanam yang telah dikomposkan dimasukkan ke dalam kantung plastik. Kantung plastik pada kedua ujung pangkalnya ditekuk ke dalam, sehingga setelah diisi dan dipadatkan kantung plastik dapat berdiri seperti botol. Kantung plastik diisi kurang lebih ¾ bagian, kemudian yang ¼ bagiannya ditekuk ke dalam. Untuk meletakan plastik yang telah diisi (polibag) pada posisi terbalik yaitu bagian yang ditekuk/dilipat ke dlam ditempatkan ke bawah.
Usaha jamur tiram ini memiliki prospek bisnis yang bisa diandalkan meskipun ditengah kondisi perekonomian saat ini yang sedang (dan makin) kritis. Selain hal ini mulai banyak diminati oleh masyarakat kebanyakan di berbagai daerah terutama di pedesaan, usaha budidaya jamur tiram ini dapat menjadi peluang usaha baru yang sangat cukup menjajikan.
Dilihat dari segi ekonomi dan sosial, usaha pembudidayaana jamur tiram sangat bermanfaat bagi masyarakat, karena usaha ini dapat membuka lapangan pekerjaan baru, khusunya bagi masyarakat Desa Bandorasa Kulon.
Budidaya jamur tiram yang ditekuni oleh sebagian warga desa Bandorasakulon yang sudah dibilang berhasil ini, hendaknya harus menjadi sebuah proyek percontohan yang harus diikuti oleh masyarakat lainnya agar usaha yang cukup menjanjikan di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan ini benar-benar menjadi peluang usaha baru yang cukup menjanjikan bagi warga desa, selain dari usaha yang umum ditekuni warga kebanyakan.
Seperti halnya Pak Wawan yang berbekal pengetahuan dan pengalaman ketika mengikuti pelatihan yang diberikan oleh Dinas Perhutani dan BKKBM. Maka kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan minat wirausaha yang kreatif dan inovatif seperti halnya usaha pembudidayaan jamur ini hendaknya harus digalakan kepada masyarakat desa di Bandorasakulon, tentunya dengan dukungan dari berbagai elemen yang ada di desa terutama pemerintah desa yang harus aktif mengakomodir kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Budidaya jamur tiram  (memaksimalkan potensi limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal) sebagai peluang usaha baru yang cukup menjanjikan di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan ini akan benar – benar menjadi sebuah peluang usaha baru yang cukup menjanjikan (berdasarkan dari kenyataan pengusaha budidaya jamur tiram)  dan akan menopang perekonomian warga desa apabila ada program-program peningkatan keterampilan yang diadakan oleh masyarakat sendiri (yang telah sukses menekuni bidang jamur ini). Ada persepsi dari sebagian warga bahwa di Desa Bandorasakulon ini apabila ada salah satu orang warga saja yang telah suskses menekuni suatu usaha dan menghasilkan keuntungan dan perubahan ekonomi kehidupannya, maka bidang usaha tersebut ramai-ramai akan ditekuni juga oleh warga masyarakat lainnya.
Penyuluhan tentang pengelolaan sampah dan limbah pertanian serta kotoran ternak yang telah diselenggarakan oleh Tim KKN Kelompok 6 (enam) saja mendapat respons yang cukup baik dari para peserta yang hadir, dan minat serta keingintahuan yang cukup tinggi dari beberapa masyarakat desa akan hal-hal yang baru yang dapat menjadi peluang usaha yang dapat menghasilkan sesuatu yang baik dan menguntungkan menjadi kelebihan warga masyarakat desa Bandorasakulon untuk mengembangkan pengalaman serta keilmuan yang telah diperoleh untuk selanjutnya ditindak lanjuti sendiri apakah mau ditekuni dan dijadikan potensi yang akan menjanjikan kesejahteraan bagi kehidupan pribadi maupun kelompok masyarakat secara luas.
Adanya lembaga-lembaga yang setia menemani pemerintahan Desa Bandorasakulon seperti LPM, BPD, Karang Taruna, PKK,PNPM dan lain-lain hendaknya dapat dijadikan peluang untuk dapat memberdayakan masyarakat desa untuk dapat menemukan usaha-usaha alternative yang cukup menjajikan seperti halnya budi daya jamur tiram ini.
Pak Wawan yang juga adalah Kepala Dusun Pahing dalam hal ini harus dapat menjadi tutor/fasilitator ataupun suksesor bagi para warga masyarakat lainnya baik di dusunnya secara khusus dan di desa secara umumnya. Tutor/fasilitator untuk dapat memberi dan mentransfer pengalaman serta keilmuan yang telah dan pernah diperolehnya dahulu. Yaitu tentang usaha  budi daya jamur tiram, dari mulai teori ilmu pembudidayaan jamur yang memanfaatkan limbah pertanian, perencanaan usaha, proses usaha, sampai pemanenan, kemudian strategi pemasaran serta evaluasi dari usaha budi daya jamur tiram tersebut.
Pada akhirnya budi daya jamur tiram yang memaksimalkan potensi limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal akan (benar-benar)  menjadi sebuah peluang usaha baru yang cukup menjanjikan di desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan ini yang dirasakan juga oleh masyarakat kebanyakan dan bukan hanya perorangan ataupun kelompok saja yang merasakan manfaat baiknya dari usaha budi daya jamur tiram tersebut.








Laporan Kelompok 06 KKN II (Band.Kul)

LAPORAN KELOMPOK
KULIAH KERJA NYATA (KKN)
ANGKATAN II


“Upaya Meningkatakan Kesadaran Masyarakat Terhadap Pentingnya Pengelolaaan Sampah Di Desa Bandorasakulon
Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan”





Disusun Oleh:

Abdul Mukti         (58461202)
Defi Anisa R.        (58420438)
Dewi Sri Ayu        (58320120)
Fitri Rahmawati   (58410303)
Ii Mandasari         (58320236)
Imron Rosyadi     (58451072)
Khoeruniah          (58440813)
Lhusti Risil V.      (58471310)
Nur Afni                         (58430536)
Rusli Hamzah                (07460826)
Saonah                            (58430503)
Siti Khasanah                 (58320151)
Tuti Haryanti                 (58440924)
Usep Baharsyah            (58410283)
Uswatun Hasanah         (58450998)



Kelompok : 06
Desa / Kecamatan : Bandorasakulon / Cilimus


LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (LPM)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2011

LEMBAR PENGESAHAN

            Laporan kelompok ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan II tahun akademik 2011/2012 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan.
           

Disahkan pada  22 Agustus  2011


Dosen Pembimbing Lapangan,                                            Penguji,


    Dra. Hj. Suniti, M. Pd                                                 Mahdi, M.Ag
NIP. 19580508 198403 2002                                NIP.19670825 199303 1 004                                                                                                  


Mengesahkan,
Ketua LPM,


Drs. H. Samsudin, M.Ag
NIP. 19610328 199303 1 00




KATA PENGANTAR
Puji syukur yang tak terhingga kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan sehingga kami dapat melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon tahun akademik 2011/ 2012 sampai laporan ini kami susun.
Shalawat serta salam senantiasa kami curahkan hanya kepada junjungan kita nabi Muhammad saw sebagai qudwah hasanah kita, serta keluarga, sahabat, tabi’in, dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) II mempunyai nilai penting bagi peningkatan kesadaran untuk memenuhi kebutuhan, potensi, dan strategi pemenuhan kebutuhan lainnya dalam kehidupan bermasyarakat, yang akan berdampak terhadap perubahan, dinamika sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik. Oleh karenanya, pelaksanaan KKN II harus dapat diikuti dengan sebaik-baiknya oleh mahasiswa sehingga dapat mewujudkan kemandirian dan keadaban dalam belajar bersama masyarakat dengan mengacu pada teknik PAR (Participation Action Research) yang telah dilaksanakan pada tanggal 27 Juni sampai 5 Agustus 2011 bertempat di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus  Kabupaten Kuningan.
Dalam pelaksanaan KKN II tersebut, kami tidak lepas dari pengarahan, bimbingan, dan bantuan-bantuan dari berbagai pihak. Maka sepatutnya kami menyampaikan terima kasih kepada yang terhornmat Bapak/ Ibu:
1.        Prof. Dr. H. Maksum, M. A., Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon
2.        Dr. H. Samsudin, M.Ag., Ketua LPM (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat) IAIN Syekh Nurjati Cirebon
3.        Ahmad Yani, M. Ag., Ketua pelaksana KKN II IAIN Syekh Nurjati Cirebon
4.        Koordinator Evaluasi dan Lokakarya KKN II IAIN Syekh Nurjati Cirebon
5.        Koordinator Pembekalan dan Pendampingan KKN II IAIN Syekh Nurjati Cirebon
6.        Dra. Hj. Suniti , M.Pd., Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok 06
7.        Djodjo Irtidja, Selaku Pjs. Kepala Desa Bandorasakulon  beserta Aparat pemerintahan desa  Bandorasakulon Kec. Cilimus Kab. Kuningan Desa  Bandorasakulon Kec. Cilimus Kab. Kuningan
8.        Dan semua pihak yang telah membantu selama pelaksanaan KKN II di Desa  Bandorasakulon Kec. Cilimus Kab. Kuningan
Kami menyadari dalam penyusunan Laporan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, semua itu karena keterbatasan kemampuan kami. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penyusunan natinya.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi semua.



                                                                                        Cirebon, Agustus 2011
                                                                                                Penyusun













DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………….................. i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………................. ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………................ iv
BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ...… ……………………………………………….. ................. 1
B.     Potensi dan Identifikasi Masalah……………………………… ........................ 3
C.     Tujuan …………………………………………………..................................... 4
D.    Metodologi (Mengapa PAR – Social Mapping)… …………... ......................... 5
BAB II PERSIAPAN PENGKAJIAN WILAYAH
A.    Persiapan Lokasi …............................................................................................. 9
B.     Pembentukan Tim PAR …. ................................................................................ 11
C.     Pengkajian Data Sekunder ………………………………….…. ....................... 12
D.    Hasil Pengkajian Program dan Kebijakan Lembaga …………….... .................. 13
BAB III ANALISIS MASALAH
A.    Langkah-Langkah Pengkajian ……………........................................... ............ 15
B.     Bentuk Kegiatan……………........................................... .................................. 17
C.     Kesulitan / Hambatan................................................................. ........................ 19
BAB IV AKSI BERSAMA MASYARAKAT
A.    Temuan-Temuan ………………………………………………….… ............... 21
B.     Analisis Masalah …...…………………………………………………. ............ 21
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………. .................................... 23
B.     Rekomendasi/usul/saran ……………………………….… ................................ 23
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Segala puja dan puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah menciptakan alam dan segala isinya, dengan segala kesempurnaan yang melengkapinya. Sholawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang senantiasa memberikan sauri tauladan dan kedamaian di dalam hati kita.
Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbunan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah.  Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan.   Meningkatnya volume timbunan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan sampah yang tidak mempergunakan metode dan teknik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan juga akan sangat mengganggu kelestarian fungsi lingkungan baik lingkungam pemukiman, hutan, persawahan, sungai dan lautan.
Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pengelolaan sampah dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan  berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Berdasarkan sifat fisik dan kimianya sampah dapat digolongkan menjadi: 1) sampah ada yang mudah membusuk terdiri atas sampah organik seperti sisa sayuran, sisa daging, daun dan lain-lain; 2) sampah yang tidak mudah membusuk seperti plastik, kertas, karet, logam, sisa bahan bangunan dan lain-lain; 3) sampah yang berupa debu/abu; dan 4) sampah yang berbahaya (B3) bagi kesehatan, seperti sampah berasal dari industri dan rumah sakit yang mengandung zat-zat kimia dan agen penyakit yang berbahaya.

Sampah adalah merupakan sesuatu yang harus dibuang. Paradigma pengelolaan tersebut sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini , sehingga perlu menjalankan prinsip manajemen sampah sesuai konteks pembangunan berkelanjutan. Sampah yang dibuang harus diolah atau dibatasi sampai pada tingkat tidak melebihi daya dukung lingkungan.
Untuk mewujudkan kota dan desa bersih dan hijau, pemerintah telah mencanangkan berbagai program yang pada dasarnya bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah. Program Adipura misalnya pada tahun 2007 telah mampu mengantarkan Provinsi Bali menjadi Provinsi Adipura karena semua kabupaten dan kota di Bali telah berhasil mendapatkan Anugerah Adipura. Walaupun telah mendapat adipura bukan berarti tidak terdapat permasalahan sampah, Apresiasi pemerintah dan masyarakat selalu dituntut untuk melakukan pengelolaan sampah sehingga pada gilirannya sampah dapat diolah secara mandiri dan menjadi sumberdaya.
Sampah hendaknya dipandang sebagai sebuah potensi ekonomi antara lain sebagai bahan baku daur ulang, kompos atau pupuk organik hingga sebagai sumber energi alternatif.
Berdasarkan latar belakang di atas dan berdasarkan hasil lokakarya desa, kami mahasiswa KKN IAIN Syekh Nurjati Cirebon bekerjasama dengan aparatur desa Bandorasakulon bermaksud untuk melakukan sebuah upaya untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat terhadap pentingnya untuk mengelola sampah agar sampah bukan hanya menjadi suatu permasalahan yang sulit dipecahkan tetapi menjadi sesuatu masalah yang menjadi pemahaman.
 Pemahaman yang harus dimiliki oleh warga bahwa betapa pentingnya untuk mengelola sampah dengan baik dan benar. Upaya penyadaran betapa pentingnya pengelolaan sampah ini agar timbul pemahaman masyarakat tentang sampah yang bukan hanya dipahami bahwa sampah hanya selalu berdampak negative saja, tetapi dapat berdampak positif jika dikelola atau dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan. Selain jika pengelolaan sampah dilakukan dengan baik dan benar bukan hanya lingkungan saja yang bersih, sehat dan nyaman tetapi sampah juga dapat menjadi potensi ekonomi masyarakat desa Bandorasakulon antara lain sebagai bahan baku daur ulang, kompos atau pupuk organik hingga sebagai sumber energi alternatif.
B.     Potensi dan Identifikasi Masalah
Selama melaksanakan kegiatan KKN di desa Bandorasakulon, kami menemukan beberapa masalah yang menonjol yang dirasakan oleh masyarakat. Masalah-masalah itu adalah sebagai berikut :
a. Bidang Kesehatan
·                     Kurangnya tenaga medis
·        Belum adanya TPA Sampah
·        Banyaknya angka kematian pada ibu yang melahirkan bayinya
·        Mahalnya biaya kesehatan masyarakat
b. Bidang Pendidikan
·         Kurangnya tenaga pengajar baik dari kuantitas maupun kualitas
·         Sarana dan prasarana yang belum memadai
·         Kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan
·         Metode pengajaran kurang inovatif
c. Bidang Sosial
·         Pemukiman yang ditinggalkan oleh penghuninya keluar kota
·         Peredaran Narkoba dan Miras
·         Pekerja Kafe Malam
1)      Bidang Politik
·      Figur Kepala Desa sangat dibutuhkan oleh masyarakat desa
·      Kurangnya kehangatan hubungan emosional antara aparat desa dengan masyarakat desa serta tokoh masyarakat dan tokoh agama
·      Kepala Desa yang sering diturunkan/dilengserkan secara paksa dari jabatannya seakan menjadi budaya politik masyarakat desa Bandorasakulon
·      Adanya oposisi
e. Bidang Ekonomi
·         Kurang terperdayanya usaha mandiri
·         Banyaknya penghasilan minim dan tidak tetap
f. Bidang Pariwisata
·      Banyaknya tempat wisata bisa menjadi sumber masalahsosial baru
g. Bidang Pertanian
·       Kurang baiknya irigasi
·       Mahalnya Harga Pupuk kimia dan harga jual Padi yang Murah
Adapun temuan-temuan lain di desa Bandorasakulon yang mencakup sarana transportasi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi sebagai berikut:
·         Di desa Bandorasakulon memiliki 2 masjid dan 14 Mushola sebagai tempat peribadatan masyarakat sekitarnya.
·         Terdapat juga sebuah pondok pesantren sebagai tempat untuk belajar ilmu agama bagi para masyarakat desa dan sekitarnya.
·         Home Industry yang ada di Desa Bandorasakulon adalah Home industry budidaya jamur (untuk dikonsumsi), ubi jalar, dan leupeut.
·         Di Desa Bandorasakulon banyak terdapat Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Dayeuh Birit Ternak Sapi Potong, Kambing dan hewan ternak lainnya yang merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Dan Provinsi setempat melalui Dinas Tenaga Kerja dan Sosial.
C. Tujuan
Tujuan dari kegiatan KKN yang dilaksanakan di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan:
-          Mahasiswa sebagai fasilitator mengupayakan untuk melakukan pemberdayaan untuk perubahan yakni melakukan penyuluhan tentang pentingnya pengelolaan sampah dengan baik dan benar, sehingga masyarakat menjadi lebih bijak dalam menanggapi tentang persoalan sampah, serta bagi mahasiswa KKN dapat menjadi alternatif riset islam dan pemberdayaan masyarakat di tengah dinamika masyarakat.
-          Mahasiswa bersosialisasi dengan masyarakat untuk mengenali dan belajar bersama masyarakat selama 40 hari serta sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami permasalahan yang berkembang dalam masyarakat secara umum dan nyata.
-          Dengan adanya KKN ini, melakukan perubahan yang paragdigmatik dan gerak nyata baik dari mahasiswa maupun dari masyarakatnya sendiri kearah yang lebih baik dalam pemberdayaan masyarakat yang partisipatif dalam pengelolaan sampah yang baik dan benar sehingga hasil dari pengelolaan sampah yang baik dan benar selain lingkungan yang menjadi bersih, sehat, asri, indah dan nyaman selain itu pengelolaannya dapat menjadi potensi ekonomi dalam membangun usaha mandiri atau kelompok di Desa Bandorasakulon.
Target yang diharapkan adalah :
ü  Adanya perubahan paradigma masyarakat dalam memahami persoalan tentang  sampah.
ü  Mendapat perhatian dari semua pihak yang terlibat dalam perencanaan pengelolaan sampah.
ü  Masyarakat menyadari tentang persoalan-persoalan yang ada di Desa Bandorasakulon sesuai dengan potensi yang tersedia dan mereka mampu mencari jalan keluarnya, sehingga masyarakat dapat merespon perubahan yang cepat dan tepat.
ü  Mahasiswa melalui dan bersama masyarakat menjadi fasilitator agar mampu mengenali dan melakukan perubahan kearah yang baik menjadi lebih baik, sehingga temuan yang didapat bermanfaat sesuai dengan kebutuhan masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi secara partisipatif.
D. Metodologi (Mengapa PAR-Social Mapping)
a.      Pengertian PAR
Tidak ada definisi baku. Namun inti yang bisa dikenali dari berbagai teori dan praktek PAR sebagai berikut:
  1. Sebuah gerakan dengan semangat pembebasan masyarakat dari belenggu ideologi dan relasi kekuaan yang menghambat manusia mencapai perkembangan harkat dan martabat kemanusiaannya;
  2. Sebuah proses dimana kelompok sosial kelas bawah mengontrol ilmu pengetahuan dan membangun kekuatan politik malalui pendidikan orang dewasa, penelitian kritis dan tindakan sosial-politik;
  3. Proses masyarakat membangun kesadaran diri melalui dialog dan refleksi kritis;
  4. Riset sosial dengan prinsip:
-Produksi pengetahuan oleh komunitas mengenai agenda kehidupan mereka sendiri,
-partisipasi dalam pengumpulan dan analisa data, dan
-kontrol mereka terhadap penggunaan hasil riset. 
  1. Orientasi komunitas lebih pada proses perubahan relasi sosial (Transformasi sosial)
Beberapa contoh definisi yang pernah dirumuskan:
     Kurt Lewin (1947)
    Pencetus terminologi “Action Research”. AR adalah proses spiral yang meliputi (1) perencanaan tindakan yang melibatkan investigasi yang cermat; (2) pelaksanaan tindakan ; dan (3) penemuan fakta-fakta tentang hasil dari tindakan, dan (3) penemuan makna baru dari pengalaman sosial.
     Corey (1953)
     Action Research adalah proses dimana kelompok sosial berusaha melakukan studi masalah mereka secara ilmiyah dalam rangka mengarahkan, memperbaiki, dan mengevaluasi keputusan dan tindakan mereka.
     (Hopkins, 1985)
     Dimakskudkan untuk mengkontribusikan baik pada masalah praktis pemecahan masalah maupun pada tujuan ilmu sosial itu sendiri dengan mengkolaborasikan didalamnya yang dapat diterima oleh kerangka kerja etik.
     Peter Park, 1993
   Cara penguatan rakyat melalui penyadaran diri untuk melakukan tindakan yang efektif menuju perbaikan kondisi kehidupan mereka.
BanyakNama, Pengertian Dasar Sama
      Action Research
      Learning by doing
      Action Learning [pendidikan nonformal]
      Action Science
      Action Inquiry
      Collaborative Research
      Partisipatory Action Research
      Partisipatory Research
      Policy-oriented Action Research
      Emancipatory Research
      Conscientizing Reseach
      Collaborative inquiry
      Participatory Action Learning
      Dialectical Research
Dan masih banyak sebutan lainnya.
b.      Prinsip-Prinsip Kerja PAR
1)      Pendekatan untuk meningkatkan kehidupan sosial dengan cara merubahnya.
2)      Keseluruhan bentuk partisipasi dalam arti yang murni
3)      Kerjasama perubahan
4)      Membangun mekanisme kritik diri komunitas
5)      Proses membangun pemahaman situasi dan kondisi sosial secara kritis
6)      Melibatkan sebanyak mungkin orang dalam teoritisasi kehidupan sosial mereka
7)      Menempatkan pengalaman, gagasan, pandangan dan asumsi sosial individu maupun kelompok untuk diuji
8)      Mensyaratkan dibuat rekaman proses secara cermat
9)      Semua orang harus menjadikan pengalamannya sebagai obyek riset   
10)   Merupakan proses politik dalam arti luas
11)  Mensyarakatkan adanya analisa relasi sosial kritis 
12)  Memulai isu kecil  dan mengkaitkan dengan relasi-relasi yang lebih luas
13)  Memulai dengan siklus proses yang kecil  (aksi, refleksi, aksi dst)
14)  Memulai dengan kelompok sosial yang kecil untuk berkolaborasi dan secara lebih luas dengan kekuatan-kekuatan kritis lain 
15)    Mensyaratkan semua orang mencermati dan membuat rekaman proses     
16)  Mensyarakatkan semua orang memberikan alasan rasional yang mendasari kerja sosial mereka.
c. Mengapa PAR
            Program pembangunan pedesaan sudah berlangsung lama. Tetapi program-program pembangunan yang dijalankan selama ini banyak memperoleh kritik. Kritik tersebut didasari suatu kenyataan di lapangan, bahwa proses pembangunan tidak mampu memberikan perubahan bagi masyarakat. Proyek-proyek pembangunan banyak yang bersifat mubadzir, tidak berkelanjutan, dan justru memperparah situasi pedesaan. Berdasarakan pada kritik metodologi itulah kemudian lahir Participatory Action Reserch (PAR).
           Dibangun dalam semangat gerakan pembebasan. Sebuah proses dimana kelompok sosial kelas bawah mengontrol ilmu pengetahuan, kekuasaana danaakekuatan politik melalui pendidikan orang dewasa, penelitian kritis dan tidakan sosial politik, proses membangun kesadaran diri melalui penyelidikan dan refleksi diri, menggunakan beragam metode :
  • Produksi pengetahuan oleh komunitas mengenai agenda kehidupan mereka sendiri,
  • Partisipasi dalam pengumpulan dan analisis data, dan
  • Kontrol mereka terhadap pembangunan hasil riset.
  • Orientasi lebih pada proses perubahan sistem sosial.










BAB II
PENGKAJIAN WILAYAH
A.      Persiapan Lokasi
Dalam pelatihan yang berlangsung dari mulai workshop sampai terjun kelapangan kelompok mempelajari banyak hal mengenai metode PAR (Participatory Action Research) yaitu pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat yang dilandasi penelitian untuk memberdayakan masyarakat (Fasilitator), yang di dalamnya terdapat pembuatan teknik-teknik PAR seperti Mapping : untuk mengetahui gambaran wilayah yang diteliti, Transektoral : untuk mengetahui SDA dan SDM di wilayah tersebut, Diagram Venn : untuk mengetahui hubungan institusional dengan masyarakat, Hirarki analisa masalah : untuk mengetahui masalah yang sistemik yang ada di masyarakat, Hierarki analisa tujuan : untuk memberikan solusi akan tindak lanjut masalah yang hadir, Action Plan : Tindakan nyata yang dilakukan setelah terangkatnya sebuah masalah.
Persiapan diawali dengan proses sosialisasi dengan tujuan untuk melahirkan kepercayaan, keterbukaan, dan kekeluargaan antara mahasiswa dengan masyarakat. Teknik-teknik yang telah di paparkan diatas tidak terlepas dari observasi dengan tujuan untuk mengetahui keadaan lokasi di desa Bandorasakulon yang selanjutnya diaplikasikan secara langsung dengan menggunakan metode PAR, yakni dengan menyusun teknik-teknik PAR bersama masyarakat di desa Bandorasakulon dengan memberdayakan sumber daya guna masyarakat di desa Bandorasakulon secara tepat dan strategis.
Data wilayah umum desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, Seperti Data wilayah, Data Penduduk, Data Ekonomi, Data Pendidikan, Data Kesehatan Antara lain sebagai berikut :
a.        Data Umum :
-            Batas Wilayah desa Bandorasakulon
o   Sebelah Utara             : Desa Linggasana
o   Sebelah Barat             : Gunung Ciremai
o   Sebelah Timur             : Desa Bandorasa Wetan
o   Sebelah Selatan           : Desa Manis Lor
-          Sarana Penduduk :
1.      Perkantoran     1 Buah
  1. Sekolah/Lembaga Pendidikan 20 Buah, yakni terdiri atas 3 PAUD, 2 TK, 3 SD, 9 TPQ, 1 MD, 1 Pondok Pesantren, dan 1 PKBM.
  2. Tempat Peribadatan : Masjid 2 Buah dan Mushola 14 buah Terletak di semua Wilayah Desa Bandorasakulon.
  3. Lapangan Olah Raga : Lapangan sepakbola 1, 1 Lapangan Badminton, 1 Lapangan Tenis Meja, dan 3 Lapangan Bola Volley
b. Pemerintahan
Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus yang penduduknya berjumlah 4.411  jiwa terdiri atas 30 RT, 15 RW dan 5 Kepala Dusun. Dan Desa Bandorasakulon terdiri dari 30 Rukun Tetangga (RT) yang diantaranya mempunyai tugas dan peran masing-masing seperti pendataan warga miskin, pendistribusian jatah raskin, BLT dan lain sebagainya.
Desa Bandorasakulon yang berdiri dari tahun 1850 telah mengalami 10 pergantian kepala desa. Diantara nama-nama kepala desa desa Bandorasakulon yaitu Bapak Raden Suryawijaya (1850-1920) sebagai Kepala Desa pertama, Suradisastra (1920-1933), Raden Muhammad Wangsa Praja (1933-1943),  Durachim ( 1963-1966), Achmad Senang ( 1966-1980), Ny. Anah Ratnasih ( 1980-1989), Amujan Jaeni ( 1989-1998 ), Affandi ( 19982006), Satoro ( 2007-2008), Edi Kusnadinata ( 2009-…), sekarang dijabat oleh Pjs.Bapak Djodjo Irtidja.
c.         Keadaan Sosial Ekonomi
Warga Desa Bandorasakulon mempunyai beberapa profesi yang ditekuninya sebagai mata pencaharian pokok, diantaranya : Petani, Buruh tani, Karyawan perusahaan swasta, Pedagang Keliling, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Peternak, Montir, Bidan/Perawat Swasta, TNI, POLRI, Pengusaha besar, kecil dan menengah, Pekerja TKI ke luar negeri, dan Seniman/artis. Dari segi perekonomian warga desa Bandorasakulon hidup sederhana. Rata-rata mayoritas perekonomian warga desa Bandorasakulon yakni menengah kebawah dan hanya sebagian kecil yang berperekonomian menengah keatas.

d.        Data Kesehatan
Adanya kegiatan posyandu yang diadakan setiap bulannya yang diadakan pada setiap tanggal 13. Karena letak antar daerah yang berjauhan maka posyandu pun dibagi menjadi 5 posyandu yaitu di dusun manis, pahing, puhun, wage dan kliwon.
B.       Pembentukan Tim PAR dan Kegiatan Pembekalan Metodologi PAR
Dalam pembentukan kelompok KKN II  kami mahasiswa IAIN Syekh Nurjati dibentuk kelompok, lokasi serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), menurut ketentuan dan kualifikasi yang ditetapkan oleh lembaga.
Untuk itu kami kelompok 06 KKN II yang di tempatkan di dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Ibu Dra.Hj.Suniti, M.Pd. Sebelum terjun ke lokasi peserta KKN mendapatkan pengarahan materi KKN atau Work Shop dengan menggunakan teknik Partisipatory Action Reserch (PAR) selama 2 hari yaitu dari tanggal  16-17 Juni 2011 oleh Dosen Bapak Nuryana, M.Pd, ini dikakukan agar para peserta memahami apa yang harus dilakukan bila sudah tiba di lokasi. Adapun tema KKN sekarang adalah : Bersama Masyarakat Kita Wujudkan Islam yang Rahmatan Lil ’ Alamin”.
Fasilitator dan Partisipan
Fasilitator merupakan orang yang memfasilitasi proses kegiatan sampai selesai agar lebih mudah, dan juga mengidentifikasi permasalahan yang dilakukan dimana mahasiswa KKN hanya bertugas sebagai fasilitator dan partisipan dalam memecahkan masalah-masalah yang ditemui dilokasi dengan melakukan penelitian sederhana guna mengumpulkan dan menginterpretasikan data baru yang terkait sehingga dapat memperkaya wawasan dan memberikan sumbangsih bagi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di desa Bandorasakulon itu sendiri dimasa mendatang.
                        Sedangkan yang menjadi partisipannya adalah Bapak PJs. Kuwu Bandorasakulon yakni Bapak Djodjo Irtidja, Bapak Suhendi, Bapak Mohamad Nurdin, Bapak Muhamad  Syakur, Bapak Wahyu, K.H. Oha Raokil, Bapak Radi , Bapak Samsul Komar, Bapak Nana Sudiana, Ustad Abdul Karim, Bapak Bening Sonjaya, Ibu Wiwin Tarsidah, Bapak Jakun Kuntoro beserta Bu Ikah, Ki Jusep, Agung Sukardi, Syarif Hidayat, Muhamad Riyadi beserta Anggota IRMAS lainnya, dan juga seluruh elemen masyarakat yang ada di Desa Bandorasakulon mulai dari anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua dengan dukungan pemerintahan Kabupaten, Kecamatan dan Pemerintah  Desa.

C.      Pengkajian Data Sekunder
Untuk hasil pengkajian data sekunder permasalahan yang ada di desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan terutama mencakup semua permasalahan-permasalahan yang terdapat didalamnya. Diantara beberapa permasalahan yang ada di desa Bandorasakulon terdapat beberapa masalah yang kami angkat kedalam matrik ranking yang nantinya kami sampaikan kepada masyarakat untuk ditemukan permasalahan yang perlu penanganan oleh masyarakat sendiri. Dari beberapa masalah itu nantinya terpilih 1 masalah yang dianggap paling urgensi oleh masyarakat dan dari hasil kemufakatan masyarakat terpilihlah masalah tentang keadaan masyarakat Desa Bandorasakulon yang kurang kesadaran terhadap pengelolaan sampah di lingkungannya. Hal inilah yang mendasari kami untuk mengangkat topic dalam laporan kami yaitu tentang “Upaya Meningkatakan Kesadaran Masyarakat Terhadap Pentingnya Pengelolaaan Sampah Di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan”.

D. Hasil Pengkajian Program dan Kebijakan Lembaga
Hasil pengkajian program dan kebijakan lembaga yang telah didapat di lapangan/ lokasi KKN selama 40 hari dibentuk dalam beberapa pengkajian yang kemudian di lokakaryakan pada tingkat desa :
  1. Pengkajian tingkat desa (Lokakarya Desa)
Setiap anggota harus menemukan satu masalah untuk dikerjakan sebagai pengabdian individu untuk bahan laporan akhir dan bersama kelompok masyarakat menentukan satu masalah untuk di lokakaryakan di tingkat desa sebagai bagian untuk pengabdian kepada masyarakat. Dari semua lembaga yang ada di desa Bandorasakulon yakni LPM, BPD, PKK, DKM, PNPM  dsb, yang kemudian dikaji dan di diskusikan apakah lembaga ini berperan serta dalam membangun serta memajukan desa dan Bandorasakulon diadakannya lokakarya desa untuk mengetahui masalah yang sangat mendesak dan juga sistemik yang ada di desa Bandorasakulon setelah lokakarya tingkat desa sudah memilih satu masalah, kemudian dipecahkan dilokakarya tingkat kecamatan, Lokakarya desa dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 12 Juli 2011 yang bertempat di gedung serbaguna balai desa Bandorasakulon.
  1. Pengkajian Tingkat Kecamatan (Lokakarya Kecamatan)
Setelah terkumpul masalah dari tiap desa yang merupakan bahan untuk lokakarya kecamatan siap untuk diskusikan kemudian dibahas, setelah itu koordinator mengumpulkan masalah yang sulit dipecahkan pada tingkat kecamatan untuk memilih satu masalah yang akan diusulkan ke lokakarya tingkat kabupaten.
Hasil dari lokakarya desa dengan mengangkat masalah pengelolaan sampah merupakan salah satu dari berbagai permasalahan yang ada dikecamatan Cilimus yang diangkat oleh desa-desa yang ada.
  1. Seminar Hasil KKN
Hasil dari lokakarya tingkat Kabupaten kemudian menjadi tanggung jawab koordinator memilih satu masalah untuk di usulkan penyelesaiannya kepada pihak pemerintah Kabupaten Kuningan sesuai dengan dinas atau organisasi perangkat daerah dan juga pihak IAIN Syekh Nurjati untuk menindak lanjutinya, diharapkan seminar KKN tersebut memperoleh hasil yang dapat direkomendasiian.












BAB III
ANALISIS MASALAH
A.    Langkah-Langkah Pengkajian
   Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) II  IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tahun Akademik 2011/2012 dengan menggunakan sistem PAR ini dimulai dengan persiapan lokasi. Persiapan lokasi ini meliputi pencarian posko untuk tempat tinggal selama KKN II berlangsung dan dilakukan agar selama kegiatan pengkajian wilayah bisa berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan dari masyarakat.
Kegiatan lanjutan dari persiapan lokasi adalah silaturahmi dengan warga desaBandorasakulon, kemudian dilanjutkan dengan pencarian data tentang masalah yang menonjol di masyarakat dengan menggunakan teknik PAR, diantaranya :
Mappping / Pemetaan
Pemetaan desa  adalah menggambar kondisi (fisik dan sosial) wilayah (desa, dusun, RT, atau wilayah yang lebih luas) bersama masyarakat. Kegiatan awal yang kami lakukan dalam pengkajian wilayah adalah membuat mapping / pemetaan tentang desa Bandorasakulon untuk mengetahui gambaran wilayah yang diteliti yakni di desaBandorasakulon.
Transektoral
Transektoral adalah dalam melakukan penelusuran wilayah (transektoral) kelompok kami di bagi menjadi 5 sub kelompok dan dibagi-bagi sesuai dengan jumlah dusun yang di bagi yang ada di Desa Bandorasakulon.
Dalam penelusuran wilayah kami menemukan beberapa hal, diantaranya area pesawahan, irigasi, Curug, Hutan, dan sarana dan pra sarana dalam bidang keagamaan, pendidikan, kesehatan, jalan dusun, peternakan, home industri dan fasilitas umum lainnya.
Diagram Venn
Diagram Venn adalah teknik untuk melihat hubungan masyarakat dengan berbagai lembaga yang terdapat di desa Bandorasakulon (dan lingkungannya) serta memfasilitasi diskusi masyarakat untuk mengidentifikasi pihak-pihak apa yang berada di desa serta menganalisa dan mengkaji perannya, kepentingan untuk masyarakat dan manfaat untuk masyarakat.
Desa Bandorasakulon merupakan daerah strategis diantara segitiga pariwisata terkenal di Kabupaten Kuningan (Linggarjati, Sidomba, Sangkanhurip) , dan juga tepat di bawah kaki gunung Ciremai serta dilalui oleh angkutan umum, memiliki beberapa instansi penting diantaranya sekolah, madrasah, pondok pesantren, kelompok tani dan ternak, Karang Taruna, dan kantor desa serta lembaga-lembaga yang terkait di dalamnya seperti, LPM, BPD, Balai Kampung, PNPM Mandiri, Majelis taklim. Selain itu, terdapat juga pengusaha-pengusaha home industry yang bergerak di bidang pangan seperti pengrajin leupeut, budidaya jamur merang, dan ubi. Di samping instansi dan pengusaha, terdapat juga tenaga profesional seperti bidan, Ustadz, dan guru.
Time Line / Alur Sejarah
Time line adalah suatu teknik yang digunakan untuk menentahui alur sejarah yang terjadi di masyarakat dengan menggali perisstiwa penting yang di alami pada kurun waktu tertentu. Alur sejarah ini juga kami peroleh dari hasil wawancara dengan aparat desa dan tokoh masyarakat. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh data mengenai beberapa sejarah yang pernah ada di desa Bandorasakulon, data-data tersebut yang kemudian kami buat menjadi sebuah time line.
Daily Routine
Daily Routine adalah kegiatan harian. Kegiatan harian yang kami maksud adalah kegiatan harian masyarakat. Para petani pada umumnya berangkat ke sawah pada pukul enam pagi. Siang harinya setelah istirahat mereka kembali ke sawah hingga sore hari. Setelah makan dan shalat isya sebagian dari para petani ada yang langsung tidur dan ada pula yang nonton TV.
Trend and Change
Trend and change adalah mengetahui gambaran adanya kecenderungan umum perubahan yang akan berlanjut di masa depan dan memfasilitasi  masyarakat untuk memperkirakan arah kecenderungan umum dalam jangka panjang serta mengantisipasi kecenderungan tersebut.
Dari tahun ke tahun hasil panen warga desa Bandorasakulon tidak mengalami peningkatan, walaupun panen 2/3 kali dalam satu tahun. Keadaan tersebut disebabkan karena irigasi yang ada kurang baik dan mahalnya harga pupuk.
B.       Bentuk Kegiatan
Teknik pelaksanaan KKN Angkatan II Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tahun Akademik 2011/2012, yang melangsungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan melakukan proses awal kegiatan dengan mengkaji wilayah penelitian dan mencari masalah-masalah yang menonjol dimasyarakat dan juga silaturahmi dengan masyarakat di Desa Bandorasakulon, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pembagian tugas mencari temuan permasalahan yang ada di masyarakat.
Dari hasil temuan-temuan permasalahan yang ada di masyarakat itulah yang kemudian dijadikan data untuk pembuatan mapping, transektoral, matrix ranking papan catur,matrik penyelesaian masalah, pohon masalah, pohon tujuan, diagram venn, dan lain-lain. Sebagai kinerja 10 hari pertama kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Hasil dari temuan-temuan di masyarakat kemudian diangkat dan didiskusikan bersama masyarakat melalui media-media rapat, masyarakat sendirilah yang menentukan penyelesaian masalah yang difasilitasi oleh mahasiswa KKN, teknik pengkajian dilakukan dengan cara observasi langsung atau mencari data dari masyarakat di desa Bandorasakulon.
Teknik yang digunakaan dalam metode ini antara lain teknik obrolan ringan yaitu pembicaraan yang bersifat informal yang ditunjukkan untuk saling mengidentifikasi dan saling mengungkapkan berbagai perasaan dan kebutuhan yang dirasakan mendesak diselesaikan, dan teknik konseling yaitu realisasi pertolongan yang ditunjukkan untuk membantu berbagai masalah, kesulitan, hambatan dari masyarakat, dan teknik pencairan yang digunakan dalam membantu dan menciptakan suasana kebersamaan, keeratan dan keakraban, senasib sepenanggungan bersama masyarakat, serta teknik  penggalian potensi yakni bersama masyarakat agar mampu menggali masalah dan potensi yang ada.
Bentuk dan proses kegiatan memang tidak sepenuhnya mendapat tanggapan yang responsif dari masyarakat setempat di desa Bandorasakulon dengan adanya aksi dari mahasiswa KKN, pada dasarnya masyarakat terbantu dengan adanya mahasiswa KKN IAIN Syekh Nurjati Cirebon, masyarakat merasa terbuka dengan cara berfikir dalam manggapai dan menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat desa Bandorasakulon dengan adanya analisis yang cukup matang sehingga masyarakat mampu menyelesaikan masalah yang ada.
Pengembangan usaha swadaya sendiri merupakan salah satu modal yang baru bagi masyarakat sebagai salah satu masalah yang menjadi sumber pendayagunaan yang potensial untuk juga membantu perakonomian dan menjadi aset yang menguntungkan khususnya bagi dan warga desa Bandorasakulon.
*      Waktu dan Tempat
KKN Angkatan II IAIN SYEKH NURJATI CIREBON Tahun Akademik 2011/ 2012 berlangsung dari tanggal 27 Juni s.d 5 Agustus 2011, kami kelompok 06 bertempat di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan. Penyusunan laporan ini dari mulai melakukan teknik-teknik PAR sampai pengetikan 27 Juni5 Agustus 2011.
*      Jadwal dan Cara Penggalian Informasi
Jadwal Kegiatan KKN :
Persiapan
            Pendaftaran Peserta KKN                                          18 Mei -25 Juni 2011
            Pelatihan calon peserta KKN                                                 16–22 Juni 2011
            Pengumuman kelulusan Peserta                                 21 Juni 2011
            Penetapan Kelompok dan DPL                                  22 Juni 2011
            Pembekalan Teknis                                                    23 Juni 2011
            Survey Ke Lokasi KKN                                            24 – 25 Juni 2011
Pelaksanaan
            Pelepasan Peserta KKN                                              27 Juni 2011
            Lokakarya Tingkat Desa                                             6 – 7 Juli 2011
            Lokakarya Tingkat Kecamatan                                   14 Juli 2011
            Penarikan Peserta/ Penutupan                                     05 Agustus 2011
Kegiatan Akhir/ Pelaporan
            Penyusunan Laporan Akhir                                        6-13 Agustus 2011
            Penyerahan Laporan                                                   15 –16 Agustus 2011
            Presentasi Laporan Individual                                    18-20 Agustus 2011
            Revisi Laporan                                                            21-23 Agustua 2011
            Penyerahan Nilai Dari DPL                                        24-25 Agustus 2011
            Pengumuman Nilai                                                    29 Agustus  2011
            Seminar, Evaluasi dan RTL                                       7-8 September 2011
            Pengambilan Sertifikat KKN                                                 13 September 2011
Penggalian Informasi yang dibutuhkan diperoleh dengan melakukan :
1.        Observasi langsung kelapangan pada objek, kejadian, serta proses hubungan masyarakat dan mencatatnya.
2.        Wawancara dengan menggunakan obrolan ringan bersama warga dan survey langsung.
3.        Pengkajian data dokumenter yang ada dipemerintahan desa serta melakukan konsultasi pada orang-orang yang relevan yang termasuk pemegang otoritas formal dan non formal dalam komunitas.
4.        Teknik diskusi antar beberapa orang untuk membicakan yang merupakan persoalan bagi mereka tanpa mereka sadari, serta masalah yang dihadapi yang bersifat khusus secara lebih mendalam untuk kemudian bersama-sama melakukan dan mencari solusi atas semua persoalan tersebut.
C.      Kesulitan / Hambatan
Adanya pandangan masyarakat mengenai aktivitas mahasiswa KKN dengan metode konvensional merupakan salah satu kesulitan yang kami temui. Tampaknya paradigma tersebut sudah mendarah daging di masyarakat, sehingga kami harus dengan sangat hati-hati dan sabar menjelaskan perbedaan metode KKN dulu dengan KKN sekarang. KKN dulu menempatkan mahasiswa sebagai pengganti beberapa orang yang secara kebiasaan melakukan “aktivitas” kemasyarakatan dan juga para mahasiswa seolah mendapat tuntutan untuk memperbaiki dan membangun sarana fisik. Sementara KKN sekarang menempati mahasiswa hanya sebagai fasilitator dalam memecahkan masalah yang di temukan di masyarakat dan melakukan penelitian disamping melakukan pengabdian
Dalam model KKN tahun sekarang juga, ditekankan mahasiswa bersama masyarakat untuk belajar bersama-sama mengenai apapun, meskipun pada awalnya masyarakat tidak begitu merespon dengan baik namun setelah kami menjelaskan kepada masyarakat mereka pun dapat merespon dengan baik dengan adanya mahasiswa KKN disini. Hal ini terbukti dengan masyarakat mempercayakan kami sebagai fasilitator dalam berbagai kegiatan yang ada di desa Bandorasakulon, dimana kami hanya sebagai fasiltator dalam memecahkan permasalahan yang ada didesa.
Selain kesulitan-kesulitan diatas kami juga terkendala akan kondisi social budaya masyarakat sekitar. Bahasa sehari-hari masyarakat yang menggunakan bahasa sunda membuat kami kesulitan saat wawancara dengan mereka, hal ini terjadi karena kami kebanyakan berasal dari daerah yang tidak biasa menggunakan bahasa sunda. Selain itu perbedaan aliran agama dalam kultur agama Islam yang beranekaragam cukup membuat kami kebingungan dalam menentukan sikap.

















BAB IV
AKSI BERSAMA MASYARAKAT
A. Temuan-temuan
Sesuai dengan observasi yang kelompok lakukan dilapangan kami Melihat kondisi yang ada di desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan yaitu sangat memprihatinkan karena belum optimalnya pengelolaan sampah di desa. Hal ini dapat dilihat dari temuan banyaknya sampah-sampah yang dibuang ke sungai-sungai yang ada di tiap dusun. Maka tim KKN merencanakan membuat sebuah program untuk meningkatan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dengan baik dan benar.
Setelah melihat masalah yang ada di Desa Bandorasakulon Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan terutama dalam hal keadaan masyarakat yang tidak sadar akan pentingnya mengelola sampah dengan baik dan benar agar samapah tidak menjadi sumber bencana, yang kemudian pada Lokakarya Desa sebagian besar masyarakat dan Aparatur desa memilih  permasalahan pengelolaan sampah sebagai suatu permasalahan yang sangat urgen untuk dicarikan solusinya. Dan lewat program penyuluhan pengelolaan sampah yang baik dan benar dengan mengundang aparat desa setempat, Bapak Wahyu selaku ketua LPM, Bapak Moh.Syakur selaku Kesra, serta Beberapa Kepala Dusun dan masyarakat Desa Bandorasakulon diharapkan hal ini dapat menjadi pemicu awal serta memotivasi agar masyarakat desa dan aparataur desanya dapat berbuat sesuatu untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah ini.
B. Analisis Masalah
a)                                                                                                                                                                              Masalah Utama
           Dari inti masalah yang telah dijelaskan di atas, maka yang menjadi masalah utamanya adalah sebagai berikut:
1.      Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap lingkungan
2.      Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan sampah
3.      Sampah yang dibuang ke sungai
4.      Tidak adanya tempat pembuangan akhir (TPA) Sampah
b)      Prioritas program
    Dengan melihat masalah-masalah  yang ada berdasarkan analisis kami dan kesepakatan dengan pihak yang bertanggung jawab tentunya bersama masyarakat sekitar, kami memprioritaskan program yang sudah di rencanakan dan di sepakati dengan tujuan untuk mengkomunikasikan informasi mengenai pengelolaan sampah dan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat desa Bandorasakulon terhadap lingkungan serta membantu pengambil keputusan menentukan tindakan yang diperlukan untuk memperbaiki pengelolaan sampah seoptimal mungkin, diantaranya sebagai berikut:
1.      Mengupayakan adanya pertemuan antara aparat desa, LPM, BPD, tokoh masyarakat dan perwakilan masyarakat yang ada dan yang paling utama adalah dinas pengelola lingkungan hidup Kabupaten Kuningan yang ada di wilayah tersebut.
2.      Membuat proposal pengajuan dana untuk mengadakan sarana dan prasarana yang memadai terkait pengelolaan sampah, seperti tempat sampah (TPA dan TPS) .
3.      Mengadakan penyuluhan ataupun sosialisasi tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar di Desa Bandorasakulon.
4.      Melanjutkan program yang sudah ada dan memberikan tindak lanjut terhadap permasalahan tersebut.
5.      Mengusulkan dipercepatnya realisasi kegiatan-kegiatan yang sudah diprogramkan.
c)      Tingkat kesiapan masyarakat
            Dengan diadakannya pertemuan antara pihak bertanggung jawab mengenai masalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah Desa Bandorasakulon, maka warga dan pihak terkait di dalamnya siap mencari solusi. Oleh karena itu dengan adanya program tersebut di atas kami (mahasiswa KKN) mendapatkan respon yang baik dari masyarakat (perwakilan masyarakat setempat) dan secara bersama-sama merumuskan kegiatan yang selanjutnya perlu dilakukan.




BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Waktu pelaksanaan KKN yang hanya 40 hari jelas sangat kurang untuk melakukan sebuah program yang benar-benar di rasakan oleh masyarakat, untuk itu kami peserta KKN meminta kepada masyarakat, bila KKN ini sudah selesai maka permasalahan-permasalahan yang ada di desa Bandorasakulon yang bersifat urgen dalam hal ini mengenai persoalan sampah agar kemudian bisa dikelola dengan baik dan benar oleh masyarakat desa setempat, sehingga sampah bukan hanya menjadi sumber masalah dan malapetaka bencana tetapi dapat menjadi sumber penghasilan serta potensi ekonomi bagi masyarakat desa setempat.
B. Rekomendasi / usul/ saran
Berdasarkan hasil dari lokakarya Tingkat Desa (Desa Bandorasakulon), maka untuk menyelesaiakan permasalahan tentang pengelolaan sampah tersebut kami merekomendasikan beberapa hal untuk menjadi bahan pertimbangan kepada pihak-pihak yang terkait di desa Bandorasakulon. Adapun rekomendasi tersebut dibagi kedalam dua cara, yaitu rekomendasi teknis dan strategis.
1. Rekomendasi teknis
Rekomendasi teknis ini adalah hal-hal yang bersifat praktis yang perlu di selesaikan masyarakat. Adapun hal-hal itu adalah mengadakan musyawarah bersama masyarakat mengenai permasalahan sampah di Desa Bandorasakulon ini agar bisa dikelola dengan baik dan benar oleh masyarakat dan pemerintah desa sebagai penentu kebijakan, dan dengan program untuk penyadaran  kepada masyarakat tentang betapa pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar di Desa Bandorasakulon, baik melalui optimalisasi penyuluhan ataupun sosialisasi tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar.
2.Rekomendasi strategis
Rekomendasi strategis adalah hal-hal yang terkait dengan kebijakan pemerintah daerah, perguruan tinggi dan instansi-instansi lain. Rekomendasi strategis yang berkaitan dengan diberlakukannya UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah maka diperlukan model pengelolaan sampah yang baik dan tepat untuk dikembangkan di perkotaan dan perdesaan  sehingga kualitas kesehatan, kualitas lingkungan dapat ditingkatkan serta sampah dapat menjadi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa setempat.