Kamis, 26 Juli 2012

PERCAYA DIRI DAN TIDAK MUDAH PUTUS ASA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN


MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas struktur
Mata kuliah : Tafsir TarbawyDosen pembimbing : Saifuddin, M.Ag

Disusun oleh :
Kelompok 2
Denisa (58461164)
Minkhatul Maula (58461179)
Muhamad Markina (58461180)
Yeni Anggraeni (58461196)


TARBIYAH / IPA BIO-A / III
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
2009

PERCAYA DIRI DAN TIDAK MUDAH PUTUS ASA
DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN

I.       LATAR BELAKANG
Allah berfirman,
"… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka snediri….
(Ar-Ra'd:11)
Ayat Al-Qur'an diatas adalah hukum perubahan dalam kehidupan di dunia. Oleh karenanya, keadaan kita tidak akan berubah dari satu kondisi menjadi kondisi lain, kecuali dengan peran tangan kita sendiri. Selama  kita tidak mengenal hukum perubahan ini dengan baik, maka segala upaya kita untuk mengatasi rasa cemas atau agar terbebas dari kesusahan, tidak akan berguna. kita tidak akan mampu terbebas dari rasa cemas kecuali jika kita sendiri bersikeras untuk mengatasi hal ini. Kita harus berusaha untuk mencari jalan keluar agar terbebas dari rasa itu. Untuk itulah perlu adanya kesadaran untuk merubah diri, salah satunya dengan menumbuhkan rasa percaya diri dan tidak mudah putus asa.

II.    PERCAYA DIRI DAN TIDAK MUDAH PUTUS ASA

Sentral kajian
QS. ALBAQARAH [2] : 223

öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4¯Tr& ÷Läê÷¥Ï© ( (#qãBÏds%ur ö/ä3Å¡àÿRL{ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqßJn=ôã$#ur Nà6¯Rr& çnqà)»n=B 3 ̍Ïe±o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËËÌÈ  
Artinya: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

QS  YUSUF [12] : 87
¢ÓÍ_t7»tƒ (#qç7ydøŒ$# (#qÝ¡¡¡ystFsù `ÏB y#ßqムÏmŠÅzr&ur Ÿwur (#qÝ¡t«÷ƒ($s? `ÏB Çy÷r§ «!$# ( ¼çm¯RÎ) Ÿw ߧt«÷ƒ($tƒ `ÏB Çy÷r§ «!$# žwÎ) ãPöqs)ø9$# tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÑÐÈ  
Artinya : Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

QS AL IMRAN [3] : 82
`yJsù 4¯<uqs? y÷èt/ šÏ9ºsŒ šÍ´¯»s9'ré'sù ãNèd šcqà)Å¡»xÿø9$# ÇÑËÈ  
Artinya : Barang siapa yang berpaling sesudah itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.

QS AL-ZALZALAH [99] : 7-8
  `yJsù ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB >o§sŒ #\øyz ¼çnttƒ ÇÐÈ   `tBur ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB ;o§sŒ #vx© ¼çnttƒ ÇÑÈ  
Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

QS AL HIJR [15] : 51-52
øŒÎ) !9# 4 y7ù=Ï? àM»tƒ#uä É=»tGÅ6ø9$# 5b#uäöè%ur &ûüÎ7B ÇÊÈ    (#qè=yzyŠ Ïmøn=tã (#qä9$s)sù $VJ»n=y tA$s% $¯RÎ) öNä3ZÏB tbqè=Å_ur ÇÎËÈ
Artinya : Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), Yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: "Salaam". berkata Ibrahim: "Sesungguhnya Kami merasa takut kepadamu".

QS AL-HIJR [15] : 53-56
  (#qä9$s% Ÿw ö@y_öqs? $¯RÎ) x8çŽÅe³u;çR AO»n=äóÎ/ 5OŠÎ=tæ ÇÎÌÈ   tA$s% ÎTqßJè?ö¤±o0r& #n?tã br& zÓÍ_¡¡¨B çŽy9Å6ø9$# zOÎ6sù tbrãÏe±t6è? ÇÎÍÈ   (#qä9$s% y7»tRö¤±o0 Èd,ysø9$$Î/ Ÿxsù `ä3s? z`ÏiB šúüÏÜÏZ»s)ø9$# ÇÎÎÈ   tA$s% `tBur äÝuZø)tƒ `ÏB ÏpyJôm§ ÿ¾ÏmÎn/u žwÎ) šcq9!$žÒ9$# ÇÎÏÈ  
Artinya : Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim". Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku Padahal usiaku telah lanjut, Maka dengan cara Bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?" Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, Maka janganlah kamu Termasuk orang-orang yang berputus asa". Ibrahim berkata: "tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat".

Uraian
QS. ALBAQARAH [2] : 223

öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4¯Tr& ÷Läê÷¥Ï© ( (#qãBÏds%ur ö/ä3Å¡àÿRL{ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqßJn=ôã$#ur Nà6¯Rr& çnqà)»n=B 3 ̍Ïe±o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËËÌÈ  
Artinya: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

TAFSIRU AL MUFRADAT
Al-Harts : tempat bercocok tanam atau tanah yang bisa ditanami. Wanita di ibaratkan dengan tanah karena ia tempat tumbuhnya anak, sebagaimana tanah tempat bercocok tanam.
Anna syi'tum : sesuka hatimu, dengan berdiri, duduk, telentang, dari depan atau dari belakang. Tetapi yang kamu datangi hanya satu, yaitu tempat kamu bercocok tanam.[1]

Pengertian Secara Ijmali
öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4¯Tr& ÷Läê÷¥Ï©
Tidak ada dosa bagi kalian untuk mendatangi istri – istri kalian dengan cara apapun yang kalian sukai, jika hal ini kalian lakukan untuk mendapatkan keturunan dan kalian melakukannya pada tempat yang sebenarnya, sebab, syari'at agama tidak bermaksud memberati kalian dan melarang kalian untuk menikmati kelezatan ini. Sebaliknya, syari'at justru ingin mendatangkan kebaikan dan manfaat pada kalian., serta tidak menghendaki kerusakan pada kalian dengan meletakan sesuatu tidak pada tempatnya.[2]
Dalam tafsiran diatas dapat kita ambil hikmah dalam menjaga hubungan. Menurut beberapa orang menjaga hubungan itu lebih sulit daripada membuka hubungan baru. Alasannya karena hubungan itu bersifat dinamis, seperti makhluk hidup. Dan untuk menjaga hubungan itu tetap harmonis adalah dengan menjaga kesepakatan. Dalam tafsir Fizhilalil Quran karya Sayyid Qutb. Beliau mengungkapkan bahwa dalam ayat tersebut terkandung isyarat-isyarat yang menunjukan tabiat hubungan dari satu segi dan menunjukan tujuan serta sasarannya. Memang segi ini tidak meliputi semua hubungan antara suami istri. Hal ini disebutkan dalam beberapa tempat lain sesuai dengan konteksnya.
Ayat ini datang didepan ayat sebelumnya sebagai penjelasan yang menerangkan hikmah pen-syari'an menggauli wanita, yaitu untuk menjaga kelestraian jenis manusia malalui kelahiran, sebagaimana tumbuh-tumbuhan dilestarikan melalui penyemaian dan penanaman kembali. Itulah hikmah yang terkandung didalamnya dan bukan sekedar untuk memperoleh kelezatan semata – mata. Oleh karena itu, kita (kaum adam) dilarang mendatangi wanita haidh, sebab dalam kondisi seperti itu ia belum siap untuk menerima penyemaian bibit dan mereka juga dilarang mendatangi wanita tidak pada tempat yang dapat melahirkan keturunan.
(#qãBÏds%ur ö/ä3Å¡àÿRL{4 (#qà)¨?$#ur ©!$#
Apa yang dianugerahkan kepada diri kita adalah sesuatu yang jelas mendatangkan manfaat bagi kehidupan kita sejak awalnya. Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi mnausia untuk masa depannya, melebihi seorang anak yang berbakti kepadanya dan memberikan manfaat untuk agama dan dunianya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadist Nabi saw. yang berbunyi :

اِنَّ الْوَلَدَ الصَّالِحَ مِنْ عَمَلِ الْمَرْءِ الَّذِيْ يَنْفَعُهُ بَعْدَمَوْتِهِ
Sesungguhnya, anak yang saleh adalah hasil perbuatan mausia yang akan mendatangkan manfaat baginya setelah matinya.

Seorang anak tidak akan menjadi demikian, kecuali jika kedua orang tuanya mendidik dan mengasuhnya dengan baik beserta mengarahkannya untuk menjadi manusia yang berahlak mulia.
Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan seorang wanita pilihan yang bisa menyayangi anaknya dalam ikut mengemban tugas suaminya mendidik anaknya dengan akhlak dan perbuatannya yang baik. Sehingga menjadi contoh yang baik bagi anaknya. Sebab seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, ia akan selalu memperhatikan gerak gerik dan semua tingkah laku ibunya, kemudian ia akan berusaha menirunya. Jika ia memilki akhlak yang baik, maka anaknya akan tumbuh dengan akhlak yang baik dan ia akan memilki sifat-sifat terpuji. Sebagaimana seorang petani yang hendak menyemaikan bibit, maka ia memilih tanah yang bisa mendatangkan hasil yang baik dan banyak.[3]
Seperti yang diungkapkan para ahli bahwa untuk menumbuhkan akhlak yang baik termasuk didalamnya menumbuhkan rasa percaya diri bukanlah diperoleh secara instant, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam kehidupan bersama orang tua. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, namun factor pola asuh dan interaksi di usia dini, merupakan factor yang amat mendasar bagi pembentukan akhlak yang baik dan rasa percya diri. Sikap orang tua, akan diterima oleh anak sesuai persepsinya pada saat itu. Orang tua yang menunjukan kasih, perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak, akan membangkitkan rasa percaya pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai dimata orang tuanya. Dan, meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orang tua anak melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan tergantung pada prestassi atau perbuatan baiknya, namun karena eksistensinya. Dikemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang realistic terhadap dirinya  seperti orang tuanya meletakan harapan realistic terhadap dirinya
Kemudian Firman Allah "wattaqu'l-Lah" artinya : takutlah kepada Allah, jangan kalian menyalahgunakan kedudukan wanita sebagai ladang kalian dengan mendatangi mereka pada saat mereka sedang dalam keadaan haidh atau mendatangi mereka pada tempat yang tidak semestinya atau memilih wanita yang buruk akhlak sebagai istri, yang akan merusakan pendidikan anak-anaknya karena kurangnya perhatiaan atau karena memberikan contoh yang tidak baik kepada mereka.
Ayat berikutnya merupakan ancaman terhadap orang-orang yang melanggar perintah-Nya :
(#þqßJn=ôã$#ur Nà6¯Rr& çnqà)»n=B
Ketahuilah, bahwa kelak kalian akan menemui Tuhan kalian, dan ia akan membalas amal perbuatan kalian yang telah melanggar dan menentang perintah –Nya dengan siksa-Nya yang sangat pedih.
̍Ïe±o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$#
Berikanlah kabar gembira kepada kaum mu'min yang telah menaati batasan-batasan agama dan mengikuti petunjuk Tuhan mereka dalam masalah mendatangi wanita dan mendidik anak-anaknya, bahwa mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Barang siapa memilih untuk dirinya istri yang saleh dan berlaku baik dalam mendidik anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya, maka ia akan merasa bahagia dengan keadaannya, keluarga dan anak-anaknya.[4]
Adapun orang-orang yang memburu kepuasan nafsu syahwatnya, ia telah menyimpang dari hukum-hukum yang telah disyariatkan oleh Allah terhadap hamba-hambanya-Nya. ia tidak akan selamat dari malapetaka di dunia dan akhirat nanti, ia akan berada dalam keadaan yang lebih menyedihkan dan lebih sesat jalannya.
Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah, melengkapi diri dengan iman yang benar dan akhlak yang utama, berhati tenang dalam kondisi senang ataupun susah dan menyerahkan segala persoalan kepada Yang Maha Pencipta setelah berusaha sekuat tenaga dan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Itulah tawakal yang diperintahkan oleh Allah kepada kita semua.
QS  YUSUF [12] : 87
¢ÓÍ_t7»tƒ (#qç7ydøŒ$# (#qÝ¡¡¡ystFsù `ÏB y#ßqムÏmŠÅzr&ur Ÿwur (#qÝ¡t«÷ƒ($s? `ÏB Çy÷r§ «!$# ( ¼çm¯RÎ) Ÿw ߧt«÷ƒ($tƒ `ÏB Çy÷r§ «!$# žwÎ) ãPöqs)ø9$# tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÑÐÈ  
Artinya : Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

TAFSIRU AL MUFRADAT
Tahassasu : cari tahulah tentang yusuf dengan indera kalian, seperti pendengaran dan penglihatan.
Ar-rauh : bernafas. araha i'insanu berarti manusia bernafas : kemudian digunakan dalam arti melapangkan dari kesusahan.[5]

Penjelasan
¢ÓÍ_t7»tƒ (#qç7ydøŒ$# (#qÝ¡¡¡ystFsù `ÏB y#ßqムÏmŠÅzr&ur
Wahai anak-anakku, pergilah kalian ke negeri mesir, dan cari tahulah berita tentang mereka berdua dengan pendengaran dan penglihatan kalian, sehingga kalian benar-benar yakin tentang perkara mereka.[6]
kata(تحسّسوا) tahassasu terambil dari kata(تحسّس) tahassasa yang asalnya dari kata (حس) hiss yang bermakna indera. Yang dimaksud disini adalah upaya yang sungguh-sungguh untuk mencari sesuatu, baik berita maupun barang, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, untuk kebaikan maupun keburukan. Ia berbeda dengan kata تجسّس)) tajassus yang digunakan untuk memata-matai sesuatu, mencari beritanya yang buruk secara sembunyi-sembunyi.
Ÿwur (#qÝ¡t«÷ƒ($s? `ÏB Çy÷r§ «!$#
Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, Dia akan melapangkan kesusahan ini. Sehingga, jiwa menjadi tentram dan hati menjadi tenang.
Kata rauh ada yang memahaminya bermakna nafas. Ini karena kesedihan dan kesusahan menyempitkan dada dan menyesakan nafas. Sehingga, bila seseorang dapat bernafas dengan baik, maka dada menjadi lapang. Dari sini lapangnya dada diserupakan dengan hilangnya kesedihan dan tertanggulanginya problema. Ada juga yang memahami kata rauh seakar dengan kata istirahah, yakni hati beristirahat dan tenang. Dengan demikian, ayat ini seakan-akan jangan berputus asa dari datangnya ketenagan yang bersumber dari Allah.
Nabi Ya'kub as pada ayat diatas hanya memerintahkan mencari berita Yusuf as dan seorang saudaranya yaitu Benyamin. Beliau tidak menyuruh anaknya tertua. ini agaknya karena diketahui  keberadaanya di mesir dan itu atas kemauan sendiri. Berbeda dengan Yusuf as yang dianggap hilang atau Benyamin yang mereka duga berada di tangan orang lain dan diperbudak.[7]
¼çm¯RÎ) Ÿw ߧt«÷ƒ($tƒ `ÏB Çy÷r§ «!$# žwÎ) ãPöqs)ø9$# tbrãÏÿ»s3ø9$#
Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir kepada kekuasaan dan kelapangan Rahmat–Nya. Serta tidak mengetahui bahwa Allah mempunyai kebijaksanaan yang sempurna dan kasih sayang yang halus pada hamba-hamba-Nya. Sehingga, apabila mereka tidak berhasil memperoleh apa yang mereka inginkan, seperti menyingkirkan malapetaka atau mengambil manfaat, maka mereka membunuh dirinya sendiri karena bersedih dan berduka cita.
Adapun oarng yang benar-benar beriman, tidak akan dibuat berputus asa oleh musibah dan kekuasaan dari rahmat Tuhannya, dan bahwa Dia akan melapangkan kesusahannya.
Oleh karena itu , ibnu Abbas berkata :  " Sesungguhnya orang yang beriman akan menyebut kebaikan-kebaikan Allah Ta'ala karena kebaikan yang diharapkannya diwaktu mendapat musibah dan memuji-Nya diwaktu lapang". [8]
Dalam hal ini kaitannya adalah dalam mensyukuri nikmat Tuhan, mensyukuri nikmat Tuhan tentu tidak cukup dengan mengucapkan "Alhamdulillah ". Syukur yang kita butuhkan disini menggunakannya seoptimal mungkin, dengan cara-cara yang benar, dan untuk meraih tujuan atau prestasi. Pertama, temukan dulu. Sidney Moon dalam konferensi tahunan ke delapan tentang bakat di Yunani (2002) menjelaskan bahwa supaya bakat seseorang itu muncul dan bermanfaat bagi orang itu, maka ini menuntut tiga hal, yaitu:
·     Kemampuan memahami diri, (tahu kelebihan atau kelemahan)
·     Kemampuan membuat keputusan hidup yang bagus (berfikir positif, ber-aksi positif, bergaul di lingkungan kondusif)
·     Kemampuan menaati disiplin-diri (kemampuan, ketekunan, kegigihan, dst)
Kedua temukan sasaran yang cocok. Sasaran ini bisa berbentuk apa yang ingin kita raih.
Ketiga, munculkan motivasi positif dari dalam diri. Artinya disini memiliki niat yang positif seperti mengaktualisasikan bakat untuk mengekplorasikan diri, mensyukuri nikmat Tuhan, melawan kekufuran.
Dalam suatu hadis diriwayatkan.
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ
 Siapa yang mengenali dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya
Kita tahu bahwa setiap orang sudah dibekali perangkat untuk menangkap petunjuk, termasuk disini adalah perangkat yang menunjukan kita tentang Tuhan. Perangkat petunjuk ini antara lain : naluri perasaan, akal pikiran, suara hati, pancaindra, agama atau dalil-dalil kitab suci, peristiwa dalam kehidupan atau realitas.
Semua perangkat itu bisa digunakan untuk menemukan Tuhan. Syaratnya disini adalah apakah kita akan menggunakannya atau akan membiarkannya. Jika kita mau menggunakannya untuk proses penyerapan, maka semuanya akan menunjukan pada kesadaran dan pemahaman. Tetapi bila tidak digunakan, tidak akan menghasilkan apa-apa. Sesuai dengan hadist tersebut yang mengajarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya dalam kondisi sesulit apapun kita, kita tidak teputus dari rahmat Allah.
Seperti apa bentuk dan proses menemukan Tuhan? Tentu penjelasannya adalah memperkuat keimanan pada Tuhan. Kalau kita mengimaninya maka Tuhan akan kita temukan. Karenanya sebutan untuk orang yang tidak beriman adalah kafir. Kafir bukanlah orang yang tidak punya Tuhan atau buakanlah orang yang telah kehilangan Tuhan, melainkan orang yang mengingkari adanya Tuhan. Mengingkari artinya batin kita menolak untuk mempercayainya atau mengimaninya. Nah, terkait dengan pembahasan kita, jika kita ingin melangkah lebih percaya diri maka tingkatkan keimanan kita. Semua orang yang telah berhasil melangkah dengan keyakinan yang tinggi, mereka mempunyai keimanan terhadap Tuhan.
Salah satu Firman Allah yang menerangkan bahwa seseorang tidak bisa menemukan tuhan yaitu
QS AL IMRAN [3] : 82
`yJsù 4¯<uqs? y÷èt/ šÏ9ºsŒ šÍ´¯»s9'ré'sù ãNèd šcqà)Å¡»xÿø9$# ÇÑËÈ  
Artinya : Barang siapa yang berpaling sesudah itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.

Barang siapa berpaling sesudah diambil perjanjian untuk persatuan ini, kemudian menjadikan agama sebagai alat pemecah belah dan permusuhan, disamping tidak mau beriman kepada Nabi akhir zaman yang membenarkan pendahulunya, kemudian tidak mau menolongnya, maka mereka adalah orang–orang yang ingkar lagi fasik. Orang-orang ahlul kitab yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad  adalah orang–orang yang keluar dari perjanjian Allah dan tukang merusak perjanjian. jadi sama sekali mereka adalah tidak dalam agama yang benar.[9]
Yakni yang mantap kekufurannya. Ini berarti bahwa keputusaasaan identik dengan kekufuran yang besar. Seseorang yang kekufurannya belum sampai ke peringkat itu, maka biasanya ia tidak kehilangan harapan. Sebaliknya, semakin mantap keimanan seseorang, semakin besar pula harapannya. Bahwa keputusasaan hanya layak bagi manusia durhaka, karena mereka menduga bahwa kenikmatan yang hilang tidak akan kembali lagi. Padahal sesungguhnya kenikmatan yang diperoleh sebelumnya adalah berkat anugerah Allah juga. Sedang Allah swt. Maha Hidup dan terus menerus wujud. Allah swt. dapat menghadirkan kembali apa yang telah lenyap, bahkan menambahnya sehingga tidak ada tempat bagi keputusasaan bagi yang beriman.
Kenapa kita perlu meningkatkan iman? Alasannya,
Pertama, adanya hukum pembalasan akhir. Menurut praktek hidup, hukum pembalasan akhir  itu memiliki cara kerja yang lebih tepat dan pasti. Tuhan punya cara sendiri dalam membalas perbuatan baik kita.

Seperti firman Allah dalam QS AL-ZALZALAH [99] : 7-8
  `yJsù ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB >o§sŒ #\øyz ¼çnttƒ ÇÐÈ   `tBur ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB ;o§sŒ #vx© ¼çnttƒ ÇÑÈ  
Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

Begitu juga kalau perbuatan baik kita dikhianati orang. Bukan berarti hilang total akibat penghianatan. Akan tetapi orang lain yang berbuat jahat akan mendapatkan balasannya dan kita pun selama kita tidak kapok berbuat baik maka akan dibalas juga. Iman berfungsi agar kita tidak mudah kapok dalam berbuat baik dan agar kita tetap yakin akan adanya balasan yang kita dapatkan. Iman juga sebagai motivator dan energizer. Dengan begitu hidup kita makin percaya diri.
Kedua, adanya ujian jiwa. Dalam prakteknya, setiap jiwa manusia itu akan mendapatkan ujian. Ujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah kita orang kuat ataukah orang lemah. Orang yang imannya kuat, tidak mudah hilang kendali saat hidupnya enak, dan tidak mudah hancur jiwanya saat hidupnya tidak enak. Orang yang imannya kuat lebih percaya diri  dalam mengahadapi realitas.

QS AL HIJR [15] : 51-52
øŒÎ) !9# 4 y7ù=Ï? àM»tƒ#uä É=»tGÅ6ø9$# 5b#uäöè%ur &ûüÎ7B ÇÊÈ    (#qè=yzyŠ Ïmøn=tã (#qä9$s)sù $VJ»n=y tA$s% $¯RÎ) öNä3ZÏB tbqè=Å_ur ÇÎËÈ
Artinya : Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), Yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: "Salaam". berkata Ibrahim: "Sesungguhnya Kami merasa takut kepadamu".

Pendapat Sayyid qutb tentang ayat ayat ini adalah penjelasan tentang makna agar orang-orang berakal mengambil pelajaran .
Ibn Asyur memahami dari perintah ayat ini untuk mengabarkan tentang tamu-tamu ibrahim setelah sebelumnya telah diperintahkan mengabarkan tentang rahmat dan siksa illahi sebagai salah satu bukti bahwa apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as itu merupakan rahmat Allah yang melimpah kepada hamba-hamba-Nya yang taat.
Dapat juga dikatakan bahwa setelah memerintahkan untuk menyampaikan salah satu hakkikat yang sangat penting menyangkut sifat-sfat Allah swt, kini Rasul saw, diperintahkan untuk menyampaikan hakikat penting lainnya menyangkut Nabi Ibrahim as. bapak para nabi, serta Pengumandang tauhid, serta tokoh yang sangat dihormati oleh kaum musyrikin Makkah bahkan  juga oleh orang-orang yahudi dan nasrani. Berita yang disampaikan tentang Nabi Ibrahim as itu berkaitan dengan sikap kaum musyrikin yang demikian berani menuntut turunnya malaikat. Disini dinyatakan  dan kabarkan juga kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim yakni para malaikat yang datang dalam bentuk tamu. Ketika mereka masuk ketempatnya yakni kerumahnya, maka pada saat masuk itu mereka mengucapkan salam. Ibrahim berkata setelah menjawab salam tamu-tamunya itu, yakni berkata dengan bahasa lain atau menampilkan sikap yang menyatakn bahwa : sesungguhnya kami yakni aku bersama istriku merasa takut kepada kamu.[10]
Selanjutnya dalam QS AL-HIJR [15] : 53-56
  (#qä9$s% Ÿw ö@y_öqs? $¯RÎ) x8çŽÅe³u;çR AO»n=äóÎ/ 5OŠÎ=tæ ÇÎÌÈ   tA$s% ÎTqßJè?ö¤±o0r& #n?tã br& zÓÍ_¡¡¨B çŽy9Å6ø9$# zOÎ6sù tbrãÏe±t6è? ÇÎÍÈ   (#qä9$s% y7»tRö¤±o0 Èd,ysø9$$Î/ Ÿxsù `ä3s? z`ÏiB šúüÏÜÏZ»s)ø9$# ÇÎÎÈ   tA$s% `tBur äÝuZø)tƒ `ÏB ÏpyJôm§ ÿ¾ÏmÎn/u žwÎ) šcq9!$žÒ9$# ÇÎÏÈ  
Artinya : Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim". Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku Padahal usiaku telah lanjut, Maka dengan cara Bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?" Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, Maka janganlah kamu Termasuk orang-orang yang berputus asa". Ibrahim berkata: "tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat".
Setelah tamu-tamu yaitu para malaikat itu melihat gelagat takut atau mendengar penyampaian nabi Ibrahim as. bahwa beliau dengan istrinya merasa takut, maka mereka berdua berkata janganlah engkau, wahai nabi Ibrahim as, merasa takut dengan kedatangan kami dan karena kami tidak menyentuh makanan yang engkau hidangkan, sesungguhnya kami datang menggembiraanmu yakni menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang anak laki-laki yang kuat bukan seperti anak yang lahir dari orang tua bangka yang kekurangan gizi. Anak itu akan tumbuh menjadi dewasa dan akan menajadi seorang yang alim yakni sangat dalam pengetahuannya. Anak yang dimaksud adalah Nabi Ishaq as.
ayat ini menjelaskan bahwa berita gembira itu dsampaikan kepada Nabi Ibrahim as., para malaikat tidak melarang istri Nabi Ibrahim as. takut, tetapi melarang Nabi Ibrahim as. sendiri (janganlah engkau merasa takut). sementara para ulama menggarisbawahi bahwa Nabi Ibrahim as. sam sekali tidak meragukan kekuasaan Allah. beliau hnaya terheran-heran dan merasa sangat aneh dan takjub juka dia yang telah tua dan istrinya yang dinilai telah mandul itu masih dapat memperoleh keturunan. makna ini sejalan dengan ucapan istri Nabi Ibrahim as. itu yang diabadikan pada QS HUUD [11]:72.
ôMs9$s% #ÓtLn=÷ƒuq»tƒ à$Î!r&uä O$tRr&ur ×qàftã #x»ydur Í?÷èt/ $¸øx© ( žcÎ) #x»yd íäóÓy´s9 Ò=Éftã   
Artinya : Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, Apakah aku akan melahirkan anak Padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam Keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."

Dengan demikian, Nabi mulia itu seakan-akan berkata,"aku tidak pernah berputus asa, aku hanya mempertanyakan tentang hal itu, karena aku sangat gembira mendengarnya tetapi tercengang bagaimana berita gembira itu dapat terlaksana, karena itu aku bretanya." [11]
Bagi yang mengerti tentu akan melihat hidup ini hanya bagaikan permainan. Hidup juga adalah sebuah sebuah sistem yang dahsyat yang menaungi anak adam dari dulu hingga kini dan entah sampai kapan. Namun sedahsyat apa pun sistem ini ia tetap hanyalah permainan kecil diantara permainan-permainan yang lebih tak terkatakan dalam semesta. Sebuah pemainan dimana setiap pesertanya sedang diajak untuk menanti kematian dengan performance terbaik yang mereka miliki.
Dalam permainan yang namanya berhasil dan gagal, menang dan kalah tentu ada. Bahkan banyak yang berkata bahwa “hidup hanya menunda kekalahan”. Kita boleh gagal, kita boleh salah, pun boleh tertimpa musibah. Namun kita tidak boleh kalah. Setiap kegagalan tadi hendaknya kita jadikan cemeti untuk membangkitkan semangat baru. Kita tidak boleh menyerah kepada kelemahan kita, kita tidak boleh menyerah kepada tantangan hidup; kita juga tak boleh menyerah kepada keterbatasan kita. Kita harus tetap melawan, menembus gelap, supaya kita bisa menjemput fajar. Sebab keberhasilah adalah piala yang direbut, bukan kado yang dihadiahkan begitu saja. Sedangkan menyerah dalam keputusasaan bukanlah bagian dari proses memperebutkan keberhasilan itu. Bahkan ia adalah racun yang menggerogoti cita-cita. Sehingga jadilah tubuh manusia tak lebih seperti bangkai yang mulai membusuk.
Maka tak ada alasan bagi kaum mukminin untuk berputus-asa. Walau kita melihat potensi-potensi Islam saat ini hanya bagaikan pedang tajam nan tangguh di tangan seorang pengecut yang tewas dengan pedangnya sendiri. Walau kita saat ini dijajah dengan potensi kita sendiri. Saat ini kita tengah gagal. Belum berhasil merubah bongkahan es potensi itu, agar ia menjelma jadi gelombang dahsyat yang mengarusi peradaban lain. Namun ingat, kita belum kalah dan tak boleh kalah. Tak pernah pula kita kenal yang namanya putus-asa karena pernah gagal. Bagi kita kegagalan hanyalah semacam pemantik untuk meledakkan seluruh potensi baru yang terpendam dalam diri kita.



Nilai-nilai ketarbawiyan
Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk menyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Orang optimis adalah orang yang yakin (dengan alasan-alasan yang dimiliknya), bahwa ada kehidupan yang lebih bagus di hari esok
Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Optimisme berarti menjalankan apa yang kita yakini atau apa yang dibutuhkan oleh harapan kita.
Optimis berarti kita menyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita gunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus. Kalau kita hanya yakin namun tidak kita gunakan untuk melakukan aksi untuk membuktikan keyakinan itu, ini berarti optimisme kita masih kurang. Bahkan boleh jadi keyakinan itu hanya sebuah halusinasi atau delusi. Optimisme dalam prakteknya sangat diperlukan. Ini antara lain dengan alasan-alasan : Energi positif (dorongan), kalau bicara harapan sebatas harapan tentunya kita sudah tahu kalau harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa. Lalu untuk apa kita membutuhkan harapan (optimisme) ? Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan yang lebih bagus agar energinya lebih bagus. Memiliki harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi dorongan yang lebih bagus.
Perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang terhadap masalah atau hambatan yang dihadapinya juga terkait dengan tingkat keoptimisannya orang dengan optimisme yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih rendah, cenderung lebih mudah pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang memperjuangkannya.
System pendukung, harapan optimisme juga berfungsi sebagai system pendukung. Kalau kita menginginkan keberhasilan, lalu kita berfikir berhasil, punya kemuan untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan untuk berhasil dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk keberhasilan itu, maka logikanya kita pasti berhasil. Soal kapannya itu urusan lain.
III. PERTANYAAN DAN JAWABAN
1.      Apa nilai-nilai ketarbawiyan dari ayat-ayat tersebut ? (mala)
Jawaban :
Optimis berarti kita menyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita gunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus. Kalau kita hanya yakin namun tidak kita gunakan untuk melakukan aksi untuk membuktikan keyakinan itu, ini berarti optimisme kita masih kurang. Bahkan boleh jadi keyakinan itu hanya sebuah halusinasi atau delusi.
2.      Apa yang melandasi kita untuk tidak bersikap berlebih-lebihan ? (nur laili)
Jawaban :
Berlebih-lebihan itu dapat menimbulkan kemubaziran, jadi dasarnya yaitu
ان المبذرين كانوا احوان الشياطين

3.      Apa perbedaan antara orang yang sombong dengan orang yang overcanfident ? (mas ade)
Jawaban :
Segala sesuatu yang berlebih itu biasanya tidak baik termasuk terlalu percaya diri. Dari beberapa kasus yang muncul, orang yang terlalu percaya diri berbeda dengan orang yang percaya dirinya  bagus. Orang yang over percaya diri biasanya mempunyai penilaian berlebihan terhadap dirinya. Hal ini bisa menimbulkan perlilaku yang tidak mendukung peningkatan prestasi. Sikap dan perilaku itu antara lain :
a)    Rogansi, kita merendahkan orang lain. Arogansi seperti ini di tolak oleh semua tatanan nilai di dunia ini.
b)    Merasa paling benar sendiri dan tidak bisa menerima kebenaran orang lain.
c)    Menolak opini orang lain / tidak bisa mendengarkan pendapat orang lain.
d)   Memiliki model komunikasi yang agresif, otoriter, bergaya memaksa dan tanpa empati.
e)    Kurang perhitungan dengan bahaya potensial atau kurang perhatian terhadap hal-hal yang detail.
f)     Kurang bisa mempercayai kapasitas orang lain atau terlalu perfeksionis dalam menilai orang lain.
g)    Mempunyai penilaian diri yang "over", mematok imbalan yang tinggi, terlalu berterus terang, menuntut diperlakukan secara terlalu idealis.
Ciri-ciri orang sombong :
a)    Orang sombong menganggap  dirinya lebih tinggi dari orang lain.
b)    Orang sombong seolah selalu tahu apa yang paling baik untuk orang lain.
c)    Orang sombong biasanya tajam terhadap orang yang ia lihat sebagai saingan.
d)   Orang sombong sulit dan bahkan tidak pernah mengakui kesalahan mereka.
e)    Orang sombong biasanya suka jika orang lain melakukan kesalahan.
f)     Orang sombong biasanya sangat peduli denagn pendapat orang lain terhadap dirinya.
g)    Orang sombong biasanya suka membanggakan dirinya.
4.      Bagaimana untuk menumbuhkan rasa PD ? (mas agus)
Jawaban :
Beberapa tips singkat untuk meningkatkan kepercayaan diri kader adalah ;
a)    Percaya Bahwa Kita Mampu. Meyakini pada diri kita bahwa kita mampu untuk melakukan sesuatu. Percaya pada potensi yang sudah Allah berikan dan percaya bahwa kita memiliki banyak teman dan sahabat yang akan selalu siap untuk mendukung kita. Seseorang biasanya pula menjadi tidak percaya diri ketika ia tidak cukup yakin akan kemampuannya, maka meningkatkan kemampuan, kepahaman dan pengalaman diri menjadi cara yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan pada kemampuan diri.
b)    You are special !!!.  Setiap manusia, Allah ciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan Allah pula memberikan potensi serta bakat yang berlimpah ruah kepada diri ini. Akan tetapi manusia seringkali fokus pada ketidakmampuannya, coba lah fokus pada hal yang menjadi keunggulan diri kita, dan katakan pada diri kita bahwa “saya adalah cipataan Allah yang Maha Memiliki segalanya”. Jadikan pengelolaan potensi diri sebagai kekuatan untuk menemukan hal istimewa dalam diri kita.
c)    Jauhi keraguan.  Sikap ragu bisa terbentuk karena beberapa hal antara lain, terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak pertimbangan ini akibat kita terlalu banyak mendapat informasi yang tidak semestinya datang kepada diri kita. Sebutlah kita akan belajar motor, jika kita diskusi tentang motor dengan orang yang pernah kecekalaan motor atau ditilang polisi dan itu menjadi kekhawatiran tersendiri untuk kita maka lebih baik jauhi orang semacam itu, cobalah berganti dengan berdiskusi dengan pihak yang pernah sukses akan sesuatu dan jadikan itu inspirasi dan motivasi untuk kita dalam mengambil langkah.
d)   Belajar dari orang lain. Pasti ada orang yang luar biasa dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam berargumentasi. Belajar dari mereka, saya sangat yakin setiap orang yang saat ini memegang gelar public speaker dulunya pernah mengalami masa dimana ia tidak berani berbicara di depan umum dan berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan diri. Belajar dari orang sukses akan memberikan sebuah inspirasi tersendiri untuk kita.













IV. DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Adil Fathi. 2004. " Membangun Positif Thinking secara Islami ". Jakarta : Gema Insani
Abdurrahman, DR. A'isyah. 1962. " Tafsir Bintusy-syathi' ". Bandung : Mizan
Mastuti, Indari. 2008. " 50 Kiat Percaya Diri ". Jakarta : Percetakan Hi-Fest
Mustofa Al-Maraghi, Ahmad.1984." Tafsir al-Maraghi, jilid 2 ". Semarang : CV.Toha Putra
Mustofa Al-Maraghi, Ahmad.1988." Tafsir al-Maraghi, jilid 3 ". Semarang : CV.Toha Putra
Mustofa Al-Maraghi, Ahmad.1988." Tafsir al-Maraghi, jilid 13 ". Semarang : CV.Toha Putra
Shihab, M.Quraish. 2002." Tafsir al-Misbah jilid 6 ". Jakarta : Lentera Hati
Shihab, M.Quraish. 2002." Tafsir al-Misbah jilid 7 ". Jakarta : Lentera Hati
Ubaedy, An. 2007. " Berfikir Positif ". Jakarta : Bee Media Indonesia




[1] Ahmad Musthofa al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi, jilid 2,hal.290.           
[2] Ibid., hal.296.
[3] Ibid., hal.297.
[4] Ibid., hal.298.
[5] Ahmad Mustofa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, jilid 13, hal.48.
[6]Ibid., hal.49.
[7] M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah, Vol.6, hal.513.
[8] Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Op.cit., hal.50.
[9] Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, jilid 3, hal.50.

[10] M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah, Vol.7, hal.142.
[11]Ibid., hal.144.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar